Tinggalkan komentar

Aku pernah duduk di sana; di stasiun kecil bersama Bunga Lily.

Kali ini aku lewati Stasiun kecil itu; anginnya bergemuruh usai memasuki bulan November, seakan mengejekku. Kali ini aku lebih siap untuk duduk lebih tenang.

Aku pernah duduk di sana; menghitung kereta seberapa cepat melewati obrolan kami. Seberapa cepat aku memindah diskusi. Seberapa cepat aku menyadari bahwa aku seharusnya tak perlu memperpanjang catatan.

Aku pernah duduk di sana; bertanya tentang kemana lagi untuk mencari rasa diam itu.

Aku pernah duduk di sana; di stasiun bersama Bunga Lily dalam botol, sepanjang jauhnya rel kereta di batas cakrawala, dan waktu berlalu tiada terasa, mengembara pada seputaran Stasiun kecil.

Aku pernah duduk di sana; usai mengejarmu yang duduk di gerbong terakhir Kereta Pagi, tanpa menolehku. Padahal aku berteriak mengalahkan kerasnya batu sekitar rel yang kubanting ke segala arah !! Tahukah kamu… aku marah tapi diam tertular olehmu. Sombongnya kamu.

Hujan mengguyurku. Malaikat turut diam saja; seakan getir menyaksikanku yang terus saja menyalahkan panjangnya rel ini. Aku kalah. Menyusuri rel aku pandangi halaman rumahmu, jendela dan pintu itu sunyi. Marahku belum usai, aku terabas kebun tebu dan kubiarkan sayatan daun-daunnya menyayat kulitku yang basah; agar aku segera sadar, agar aku secepatnya bersandar, agar tak terdengar lagi getar gerbong terakhir kereta yang membawamu.

Aku pernah duduk di sana; kali ini November yang kesekian, lebih tenang sesunyi rumahmu yang dibasahi musim gemericik hujan. Aku nikmati perjalanan ini melingkari jalanan desa para tetangga. Malaikat lebih gagah di sekitarku, siap mencatat, seberapa cepat aku untuk mampu melalui diskusi ini, seberapa cepat aku mendahului para kereta di stasiun ini. Dan, seberapa cepat aku untuk mendo’akanmu.

Waktupun berlalu tiada terasa, aku tak akan mencarimu lagi; aku persilahkan kereta itu melewatiku. Dan ( haha….) tak akan lagi kupaksa Pak POS untuk turut mencari di mana kamu. Aku lebih kuat berdiri di panjangnya rel, hingga gerbong terakhir terlewat, aku mampu berteriak….”haiii !!! berbahagialah !!”.

Aku pernah duduk di sana; berbicara sendiri untuk tak boleh menangis. Karena hujan sudah cukup kuat untuk melenyapkan surat-surat yang lama dalam kardus; langkah-langkah lama.

Aku pernah duduk di sana; dan kau diamkan.

 

Selamat Jalan Kekasih Hati

924836763 – draft Nov 2010.

Tinggalkan komentar

Sabtu Pagi di Kotamu

Sabtu pagi kereta pelan berhenti di St. Hall mengajakku menarik nafas dalam2 setelah sekian tahun.

Pagi yang gelap diam aku menanti kata-kata sebelum yakin akan turun hujan. Dingin menembus kelu lidahku, makin terasa sulit mengungkap do’a yang kemarin.

Matahari merayap sayup 06.00 wib melewati papan reklame jalanan kota, mendongak ke langit berharap ada tulisan dari kawan2 awan. Bersyukur sarapan pagiku penuh senyum sekitar dan sapaan, begitu hangat teh ini di kotamu, begitu dekat, begitu yakin tanpa perlu mendekat. 

Lima tikungan aku tegap menatap pagimu, seakan capung yang tak mungkin lepaskan sayap, senyum itu dari jauh, dua kali aku alami yang sama; hanya saja kali ini ingin aku lempar dengan potongan ranting pohon mahoni. haha… Kali ini benar2 lepas sayapnya…

November sdh hadir, laron berterbangan cinta awal musim hujan; kereta api telah kembali menjauh.
Daun-daun jatuh bertebaran dingin di bathin para lelaki di kios kopi ujung taman. Obrolan kami adalah diam tentang masa lalu.

Langkah itu adalah titik-titik hujan, kini… basah ujung pundakku sendiri; bersandar dikupasan pohon mahoni.

Hai…!
Tetaplah tegar seperti harapmu.
Salamku untuk hari2mu.

Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Diproteksi: Diam Capung bertengger di ujung ranting pohon Mahoni.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Tinggalkan komentar

Sedikit+ saja yg kupahami -dua-

…Maafkan aku yang ga sempat pulang ke tanah lahirmu; lebaran kemarin.

sms siang itu aku baca diantara silahturahim ribuan tetangga, ribuan jabat erat, ribuan sel-sel hangatnya peluk dan do’a-8 agustus 2013-. kamu percayakan tulisan itu hadir mewakili hari-harimu, mewakili hatimu. Aku ambil waktu serius meski hanya semenit, untuk membaca semua salam dan apapun dalam pesan; karena itu adalah silahturahim.

Apalg ini kamu, kawanku seklaras Kebun Tebu bersamaku; seglagah yg melayang bermain dari masa remaja kita. Jaga dirimu kawan dari semua yang menyakitkan.

dan aku…, ( belum mampu sebijaksana kamu ).

Seperti yang kusampaikan, diam-diam aku marah dan malu; aku hanya mampu mengira; harusnya aku terus bergerak membagi semua diskusi pada siapapun. ahh…aku malu, kawan. Aku hanya serpihan yang melangkah diantara gang-gang kampung kita; dusun kita yang lampau; sunyi itu suci; hanya sekali-kali suara sentuhan wajan dan serok, para ibu di dapur cinta mereka; dapur tanah dengan satu dipan di bawah jendela. Hanya ini yang kadang membuatku untuk berpikir lebih sederhana, bertingkah lebih sopan pada persaingan antar manusia.

Tgl 10 Agustus 2013 akan kusempatkan mampir di tempatmu duduk. Di tempatmu mendengar sayup radio RRI.

2 Komentar

Sedikit saja yg kupahami – satu-

Selamat bahagia, kawan

lama aku tak menjumpai kamu; kuharap kamu selalu bahagia, selalu tenang dan penuh aktifitas. Tak merasa sepi itu yang aku ingat tentang kamu, apalagi kala menyusuri sungai bebatuan samping hutan pinus tahun ini.

Meski aku kadang khawatirkan ttg kamu, sebenarnya aku khawatirkan juga diriku sendiri, mungkin krn lama diskusi kita lama tertunda.

Aku masih di sini, kawanku. di kehidupan antar manusia yang entah makin matang atau makin sensitif.

Kawan, kadang aku diam-diam marah. aku malu.

 

bentar, kawan….akan kudiskusikan kembali# di luar jendela hujan, aku harus di sana. continue yo… hehe

Image

Tinggalkan komentar

Di Sebuah Tanah Seberang Sungai Hatiku

Pak, pernah ga dulu aku bertanya tentang ini juga itu ?
Atau aku sekedar meloncat dari kata ke kata lainnya ?
Atau mungkinkah aku pernah mengkritik usahaku sendiri; yang sebenarnya masa yang sudah aku lewati ?
hmm..tahu ga sih..bahwa aku pernah sendiri memilah-milah kotoran dalam otakku; kutendang di dekat kursi panjang sisi pohon jaranan;
sebagian ada yang kutempel di dinding kamar bersama 6 Bidadariku; ada juga yang kubiarkan karena aku merasa terhibur dan berteman.
Aku tak mungkin merangkulmu; karena engkau mencuri star di seberang sungai sana.
Engkau menghambur di sana; membuatku diam mengurung banyaknya pertanyaan. Tak ada rekaman suara.
Pernhkah aku hampa ?
Pernakah aku di tolak ?
Pernah.
Namun itu semua ada di seberang sungai sana.
Engkau telah membiasakan aku menyusuri sendiri perkampungan; membiasakan aku berani “nglangi” di kali, di jalanan; bahkan saat meminta do’a apapun.

Ini hanya engkau dan aku.
Sisa surat ini aku robek melintang;mirip pernah ada di emosiku; kukirim basah di dapur rumah gubuk bercampur keranjang dan besek bekas hasil do’a para saudara sekampung.
Usai sunyi semua itu tetap khan kuhadiahkan pada sisi diriku…Di Sebuah Tanah Seberang Sungai Hatiku;
Di desa bersama tetangga yang makin menua; yang hanya mampu melambai seakan daun pisang akhir musim hujan.

Salamku untukmu-924836763

Tinggalkan komentar

15 Mei 2013

Tuhan,
CintaMu terlalu besar untuk kuceritakan pada yang lain.
Namun tak mungkin kusembunyikan.
Karena tak ada tempat lagi, penuh sekali dengan nikmatMu.
Ijinkan aku menangis karnaMu.
Aturlah aku selalu, agar tak surut mencariMu.
Geser amarahku ke danau yang sejuk.
Terimakasih,
Engkau pertemukan aku dengan banyak saudara,
yang selalu menepuk pundakku usai Subuh bahkan Isya.
Ingatkan do’a yang terlupa.

Balikpapan-Yogyakarta-Pekalongan