Menerjang Kesalahan

Lip, masihkah kau mencarinya ?

Sahabat Waktu. Kemanakah lagi kau akan mencari, sahabatku ? Duduklah sejenak di teras rumahku, percayalah aku mampu mendengar untuk memahami langkahmu. Jangan kau siksa dirimu, sahabatku. *** Di tikungan kantor pos sisi alun-alun, sepeda yang kau kayuh begitu cepat terparkir sore itu. Aku hentikan langkah bersama lembayung bergaris jingga, seakan tengah merayu sesuatu yang tak […]

Usai obrolan dengan para pejalan; Adi Sucipto Airport

Semalaman aku memukul-mukul kedua pundakku; pada semua ciptaan Tuhan aku tanya “Kenapa aku tak mampu memanggul semua ini….?” Aku ingin memilah dan sedikit saja mengeja, namun semua itu tak ingin luruh dari sisi tubuhku. Aku susuri jalanan yang bahkan manusia belum mengindahkannya, tapi sunyi. Aku terpelanting dengan beban yang masih enggan duduk berdampingan dan berdiskusi. […]

Wait For me

Harusnya sdh lewat, bahkan sdh belasan tahun. Menohok kerasa, padahal saat itu hadirnya hanya sesaat, namun Tuhan ternyata mencatat begitu tebal, bahkan di copy dan dilemparkan kembali padaku. Aku mencoba menolak, berlari keras dengan suara tidak !namun seakan catatan-Nya di tempel jg dgn keras di jidatku. Ah… Aku diberi tambahan kehidupan baru, padahal pasti aku […]

Aku adalah capung yg mendekati dara ( yg ujung celananya basah oleh hujan )

Ini adalah belasan tahun yg lalu. adalah manusia yg penuh kenangan. diam dan lirikannya menggelantung di awan yg sepi, namun ada sesuatu yg dicari; berjingkat diantara rintik hujan pepohonan jalan depan kampus. Rasanya ingin aku lempar dengan kerikil dari balik pilar ini, atau aku timpuk pakai remasan kertas buram yg aku curi dari kantor akademi. […]

3 bulan lalu

3 bulan lalu aku sudah lewati waktu seakan sepi, berhenti, tak ada nyanyian, tak ada hentakan lonjakan darah. begitu diam sunyi itu. begitu ranum kosong itu. Entah kenapa, pelangi hadir lagi; seakan menobatkan ulang yg semestinya. sunyi itu dibuyarkan teriakan sang rasa. rasa yg bertahun sepi itu terbang dan memecahkan awan tepat di atas kepalaku. […]

Bulan ini; desember 1994

Diam selalu diam, menghindar dari tatapan matahari, tapi aku tahu riaknya menjelajah hingga ujung suasana yg banyak kawan tak mampu memahami. Dia melirik dan hanya mampu melirik. Jalanan itu menjadi teras rumah saat aku memandangnya. Cici namanya. Seperti burung Cici atau manyar, bergelantungan begitu indah di pohon randu.

Lukisan dari Kemarin

Ada lagu KLA di sana, mendayu menarik tarikan gitar para pengamen. Entah mengapa saat itu aku enggan berdiskusi; seperti berhenti waktu. aku perhatikan kawanku malas mandi sore itu; tapi benar2 aku ga mau komentar apapun. aku seperti terhenti, tergantung sepi sendiri. Aku jenuh dgn sisi ini. aku muak dgn sisi itu. aku lupa tak menyimpannya. […]