Tinggalkan komentar

Lip, masihkah kau mencarinya ?

Sahabat Waktu. Kemanakah lagi kau akan mencari, sahabatku ?
Duduklah sejenak di teras rumahku, percayalah aku mampu mendengar untuk memahami langkahmu.
Jangan kau siksa dirimu, sahabatku.

***
Di tikungan kantor pos sisi alun-alun, sepeda yang kau kayuh begitu cepat terparkir sore itu. Aku hentikan langkah bersama lembayung bergaris jingga, seakan tengah merayu sesuatu yang tak seperti biasanya.
Aku melihatmu, kawanku; seakan dilukis waktu yang diam kemarin.
Menidurkan keinginan yang lain.
Sayup suara radio RRI melemah di jajaran para pedagang yang makin
menua di sisa waktu sedari subuh; beringin besar bergerai daunnya berantakan menari di kemarau Agustus, gemerisik terus saja menepuk-nepuk kakimu yang belum juga melangkah.
Semua menatapmu, sahabatku.
Kemarilah ke teras rumahku, kan kuijinkan kau buka buku harian di sudut kamarku, tentang kenangan yang telah terpigura rapi menjadi senyum. Tentang sepatu butut yang masih menggantung di lemari kamar; pernah menemani lariku dalam memahami sisi kehidupan.

Aku paham itu tak kan seimbang dengan pencarianmu.
Namun, kemarilah sejenak di teras rumahku, sahabatku.
Biarkanlah dia pergi.
Percayalah tak ada yg menyepelekan situasimu; semua ketentuan Tuhan.

Aku tahu kau terus saja mencari dia yang telah pergi, seribu surat berpencar pada angan; tertumpuk di tas kulit tua Pak Pos. Pagi tadi tanpa prasangka aku kumpulkan, sahabatku. Kujadikan cerpen tatapan, yang kutata rapi sesuai inginmu.

Aku tak memaksamu untuk membuang kenanganmu; namun jangan biarkan rasa kehilanganmu memupus bathin.
Kawan, masih juga kau berkelana, tak jera mencari. Duduklah sejenak di teras rumahku, kawanku yang baik.
“Aku ingin mencari yg sama, asal saja seperti dia…” menunduk kau berucap pelan.

Seribu daun beringin terbang berputar mengitari jurai akar-akar yang manis melambai, merayu para manusia pada pemandangan hidup.

Tetaplah semangat, sobatku.
Kali ini aku turut mencatat langkahmu. Kan kujadikan selendang silahturahim hari-hari.
Menjadi penampang satu sisi lingkar hidup.
Kuharap engkau tidak sepi. Teras rumahku melamun menunggu singgahmu.

Pekalongan – th. kesekian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: