Tinggalkan komentar

Sabtu Pagi di Kotamu

Sabtu pagi kereta pelan berhenti di St. Hall mengajakku menarik nafas dalam2 setelah sekian tahun.

Pagi yang gelap diam aku menanti kata-kata sebelum yakin akan turun hujan. Dingin menembus kelu lidahku, makin terasa sulit mengungkap do’a yang kemarin.

Matahari merayap sayup 06.00 wib melewati papan reklame jalanan kota, mendongak ke langit berharap ada tulisan dari kawan2 awan. Bersyukur sarapan pagiku penuh senyum sekitar dan sapaan, begitu hangat teh ini di kotamu, begitu dekat, begitu yakin tanpa perlu mendekat. 

Lima tikungan aku tegap menatap pagimu, seakan capung yang tak mungkin lepaskan sayap, senyum itu dari jauh, dua kali aku alami yang sama; hanya saja kali ini ingin aku lempar dengan potongan ranting pohon mahoni. haha… Kali ini benar2 lepas sayapnya…

November sdh hadir, laron berterbangan cinta awal musim hujan; kereta api telah kembali menjauh.
Daun-daun jatuh bertebaran dingin di bathin para lelaki di kios kopi ujung taman. Obrolan kami adalah diam tentang masa lalu.

Langkah itu adalah titik-titik hujan, kini… basah ujung pundakku sendiri; bersandar dikupasan pohon mahoni.

Hai…!
Tetaplah tegar seperti harapmu.
Salamku untuk hari2mu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: