Tinggalkan komentar

Di Sebuah Tanah Seberang Sungai Hatiku

Pak, pernah ga dulu aku bertanya tentang ini juga itu ?
Atau aku sekedar meloncat dari kata ke kata lainnya ?
Atau mungkinkah aku pernah mengkritik usahaku sendiri; yang sebenarnya masa yang sudah aku lewati ?
hmm..tahu ga sih..bahwa aku pernah sendiri memilah-milah kotoran dalam otakku; kutendang di dekat kursi panjang sisi pohon jaranan;
sebagian ada yang kutempel di dinding kamar bersama 6 Bidadariku; ada juga yang kubiarkan karena aku merasa terhibur dan berteman.
Aku tak mungkin merangkulmu; karena engkau mencuri star di seberang sungai sana.
Engkau menghambur di sana; membuatku diam mengurung banyaknya pertanyaan. Tak ada rekaman suara.
Pernhkah aku hampa ?
Pernakah aku di tolak ?
Pernah.
Namun itu semua ada di seberang sungai sana.
Engkau telah membiasakan aku menyusuri sendiri perkampungan; membiasakan aku berani “nglangi” di kali, di jalanan; bahkan saat meminta do’a apapun.

Ini hanya engkau dan aku.
Sisa surat ini aku robek melintang;mirip pernah ada di emosiku; kukirim basah di dapur rumah gubuk bercampur keranjang dan besek bekas hasil do’a para saudara sekampung.
Usai sunyi semua itu tetap khan kuhadiahkan pada sisi diriku…Di Sebuah Tanah Seberang Sungai Hatiku;
Di desa bersama tetangga yang makin menua; yang hanya mampu melambai seakan daun pisang akhir musim hujan.

Salamku untukmu-924836763

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: