Tinggalkan komentar

Kelok sungai Mahakam menyapa kangenku, meski dengan kalimat yang tak tertata.

Harusnya lebih banyak lagi pelajaran yang bisa aku petik di luasnya pulau ini; namun aku selalu menghindar krn ada kekhawatiran yang tak tersentuh.

Hingga makin lama bertahun aku makin menyatu dengan banyaknya pulau di sini; ribuan bakau melambai mengajak diskusi siang malam; elang menjadi kawan yang selalu mengisahkan indahnya awan dan langit Mahakam; pesut yang pernah sekali aku saksikan meski tak sempat mampu bergerak, krn khawatir kumpulan ikan langka itu berlalu.

Luasnya tanah dan rerumputan aku tatap melewati hutan nipah juga api-api; kata-kata tak akan pernah selesai sepanjang ratusan km sungai yang berkelok-kelok, bahkan rasa kangenku saat kita duduk di teras bilik bambu rumahmu; kursi rotan rapuh itu gemeretaknya seakan puisi remaja kita. Subhanallah….kita makin dewasa untuk memahami keinginan-Nya.

Selamat Menempuh Hidup Baru kekasih hati. Salamku dari Mahakam untuk teras rumah dan kursi rotan dekat perkebunan tebu rumah remajaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: