2 Komentar

Diam; diam-diam aku rindu

Mengalirnya seperti hujan dan diperjelas dengan petirnya;
jelas sekali wajahmu.
Ujung jarimu di bibir yang tak pernah kusentuh.
Pipimu adalah senyuman hangat sepanjang do’a usai sholat Maghrib dan Isyak.

Kali ini air matamu jatuh satu tetes di ujung matamu yg kurindu; aku tadah diam-diam.

Ingin saja aku berjalan berdua denganmu,
namun ranting akan selalu patah; diam-diam ujungnya akan menggores rindu.
Maka, aku adalah jauh.
Namun diam-diam akan menjadi rintik hujan; yang jatuh di pipimu, menciumi tidurmu…ujung bibirmu…
bahkan ketiakmu.

Iklan

2 comments on “Diam; diam-diam aku rindu

  1. Yang ini juga OK.

    šŸ™‚ Salam.

    “Mochammad”

  2. Selamat datang kembali Mas Mochamad, terimakasih hadir di sini.
    Salam rindu, meski tidak berjumpa.
    Salamku buat keluarga, juga halaman sekitar rumah.
    Semoga selalu jaya dan sehat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: