Tinggalkan komentar

Cinta Bulan September

Aku hanya ucapkan iya saat kau minta kata itu
Selanjutnya malam menemanimu menggambar wajah-wajah hatimu, dan
hembusan angin kau angankan dalam bentuk daun waru
Sunyi tak pernah pilu, namun sulit kau artikan apa.

Meja kamar ini selalu bergerak semenjak satu pigura photo menghias segala waktu; segala harapan yang terus melompat-lompat di dada. Kekuasaan apapun tak mampu meminggirkan inginmu, bahkan bertahun waktu berusaha membantumu untuk sebuah jarak; sia-sia.
Cinta, tak kan mampu mengakhiri kenangan, memukul otak dan selalu meninggalkan luka yang indah. Sendiri engkau akan tersenyum, menyapa catatan lama berharap waktu kembali.
Berharap Tuhan selalu sayang; kepada para kekasih dan jalanan panjang yang sudah di cipta-Nya.
Berharap kekasih singgah di teras yang makin basah oleh tangismu, meski hampir semua kertas untaian kalimatmu remuk teremas melumuri pipimu yang basah.

Kini, Kau rebahkan ragamu di kemarau september yang belum terselimut hujan.
Seakan putus asa, sisa-sisa kertas diarymu menjadi origami burung-burung manyar, yang menggantung di bulu-bulu matamu; berharap terpejam dan diam di ruang bathinmu.

Cinta Bulan September, melambai di seberang jalan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: