Tinggalkan komentar

Surat Bulan September

Surat itu yang aku ingat tentang sedikit membicarakan aku dan kamu; juga tentang jalanan basah bukit belakang sekolah.
Agak lupa aku ingin mengulang kembali kalimat dalam surat itu tentang bagaimana aku menyatakan rinduku atau sedihku, yang berpendar bersama kerumunan obrolan juga teriakan anak-anak dusun; agak memaksa aku mencari kamu ke kota-kota kecil berudara dingin, yang mungkin pernah menanti dan pilu. “Apakah kamu ada sedikit waktu dan ruang untuk sejenak kita berjalan-jalan melewati jalanan setapak Mushola…selanjutnya kan kupesankan do’a untuk sehari-hari kita, selamanya…”, kalimat yang inipun tidak sepenuhnya aku ingat. Maafkan aku, surat itu tak pernah sampai di dinding hatimu, bahkan aku malu menulis si pengirim di balik amplop bergaris merah itu. Aku sudah relakan keberadaanmu entah di mana; cukup aku sentuh daun tebu arah rumahmu. Kucukupkan waktu untuk mengingatmu dan kuhembuskan dalam pori-pori hembusan angin.
Kuat sekali aku berdiri menunggui Kotak Pos di simpang jalan menuju sekolah; ha ha ha…bahkan sampai sekarang aku masih bergetar bila melewati jalanan itu. Gemes banget aku tunggu Pak Pos agar membuka kembali kotak ini, dan kan kubilang…” Pak…surat itu akan kuambil lagi”.. karena berharap aku mampu meberikanya langsung padamu. hmmm…. surat itu tak pernah sampai di terasmu…, bahkan pangkuanmu. Mungkin aku salah menulis kota atau alamat…, karena yang selalu kuingat garis wajahmu.
Bulan September tak menyisakan hujan. Semua kalimat itu aku lupakan dengan senyum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s