Tinggalkan komentar

Puisi Teman Saat Bike to Village: Hutan Jambu Monyet

Hari ini terulang lagi.

Aku seakan muak, namun aku merasa ini cobaan.

Andai aku ga kuat artinya itu takdir ?

Aku sudah sematkan semua kegilasahan ini pada gelas yg bening.

Aku sampirkan semua ulasan, agar mengering dari emosi yg kesekian.

Aku adalah janji diriku sendiri. Karena aku adalah yang harus ditepati.

Aku adalah jalanan setapak. Karena aku khawatir khilaf dan murka menyombongkan diri.

Senja masih saja berlalu, tanda aku masih diberi kesempatan untuk duduk diam di tengah malam.

Mengulas do’a…yang seharian bersujud dlm qalbu berharap kuintip dan kutiru.

Karena aku merasa itulah yg terbaik. Agar pagi tak enggan menerima jejakku.

Dicipta menjadi lelaki, adalah pegembara siang dan malam, agar paham tentang kesabaran yang menaungi ribuan X. Yang menjelajah di ribuan masalah.

Yang kadang muak dan diam sendiri terpejam.

Lelaki… Kitab Sucipun membicarakannya berulang kali.

Maka lelaki harus memenangkannya.

-Jogjakarta 170612-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: