Dinda di mana…., JatiNangor sebelah sini !!

Tadinya hanya akan sepuluh tahun, seperti dalam lagu-lagu, ah…ternyata selamanya.
Menjadi hilang dan sendiri-sendiri.
Adalah sebuah kebaikan, menjadi keakraban dalam rintik hujan yang dingin Jl. Cianjur.
Selamat malam Antapani, aku pernah menyelam dalam banjirmu, meski hanya selutut, dalam kejaran anjing yang menyebalkan.
Selamat malam Dipatiukur, aku pernah terseret dipinggir pintu DAMRI hingga dingin menggigil di ujung Jatinangor.
Selamat malam kamarku Haur Pancuh I, yang selalu kosong karena tanpa harta, hanya sedikit suara radio menggeser dengkurku yang sendiri.

Ribuan tetangga menjalar, memompa silahturahim dalam gang-gang yag sempit Titiran Dalam.
Aku terpacu untuk membuka pintu, mengejar matahari yang kunanti sedari pagi.
Kamarku lembab mengejek jiwaku.
hahaha….aku ga terpengaruh akan lumutnya yang sore kemarin sudah kukerok, agar sedikit senyum saat menyapaku pulang kuliah.

Dan Dinda di mana….?
aku yang tak pernah memiliki jawaban kata-kata mengiringi dalam gerimis sepanjang jalan Bandung.
segala tikungan Jatinangor adalah kisah yang asyik, bahkan kau akan mashgul dan enggan meleraiku kala sendirian membaca ilalang Jatinangor.
atau ujung koridor kampus, saat siang kau menangis, bukan karena problem namun krn menungguku yg seakan badan tak bertuan.
…padahal aku tak semanis riang mereka.
…aku simpan itu untuk esok atau lusa.
…maafkan aku yang tak karuan saat di sampingmu.

Maafkan marahku yang tak sempat mengisyaratkan tempat tuk berteduh, sepanjang JatiNangor.
Namun..kaulah makhluk paling jahil sepanjang hidupku. he he he
Manis di hatiku, sepanjang Jatinangor, sepanjang kehidupan….

Aku tahu kamu tahu tentang apa yang kutak tahu; dan kau hibur kekakuanku dalam tingkahku. dan ada rindu.

Maafkan salahku.

Iklan
%d blogger menyukai ini: