5 Komentar

Usai obrolan dengan para pejalan; Adi Sucipto Airport

Semalaman aku memukul-mukul kedua pundakku; pada semua ciptaan Tuhan aku tanya “Kenapa aku tak mampu memanggul semua ini….?”
Aku ingin memilah dan sedikit saja mengeja, namun semua itu tak ingin luruh dari sisi tubuhku.
Aku susuri jalanan yang bahkan manusia belum mengindahkannya, tapi sunyi. Aku terpelanting dengan beban yang masih enggan duduk berdampingan dan berdiskusi.
Jalanan dengan pepohonan pagar menebar sisa hujan di seluruh tanganku, seakan ingin mendinginkan riuhnya dada.
Mereka mendiamkanku !
Beraninya memotong senyum lagu-lagu dan do’aku.
Padahal hujanpun terus saja mencandaiku dengan dinginnya, karena mereka tak yakin bila aku luka, mereka seakan berpura tak menangkap atau meluruhkan darah yang mengalir di balik kulitku.
Karena aku sembunyikan, agar langit tak marah.
Agar awan tak menutupi jejak kalian.

Waktu terus berjalan, titian takdirku seakan menahanku di seberang samudera. Tak mampu aku menyingkirkan diskusi ini, aku memaksa meski tak ada satupun yang memahami.
Dalam ketiadaan, aku masih selalu sempat melukis meski warna itu kadang habis, agar kalian tak hanya sekedar memeluk dedaunan.

Semalaman aku lalui pintu-pintu malaikat, berharap tak ada amarah.
Semalaman aku tarik nafas kuat-kuat, berharap kamu duduk di sisi bathinku yang sebenarnya lunglai.

Semalaman ada yang membisik, bahwa catatanku akan disepelekan, seperti remasan dari tulisan yang salah.
Aku biarkan hujan ini membasahi dadaku yang sesak oleh kehidupan, aku biarkan petirnya menyambar sisa harapan yang tak mungkin.
Jalan ini tak ingin kupahami, aku hanya menanti ujungnya. Seperti gang-gang kecil tempat lahirku, dengan bebauan aroma kesederhanaan juga kesenyapan. Tanahnya yang basah dengan pepohonan melati.

Hmm… Tak pernah selesai malam itu.
Paginya aku pandangi diriku terbangun sebelum aku tarik selimutnya; hanya diam seakan memberi jawaban agar aku membiarkan tentang pundak itu.
Karena Tuhan lebih tahu, bisiknya.

Aku hapus sisa air hujan dengan mengguyur sekujur tubuhku dengan embun kesadaran.
Meski aku masih saja diam.
Meski aku masih saja diam.
Hmm….

Iklan

5 comments on “Usai obrolan dengan para pejalan; Adi Sucipto Airport

  1. Hmmmm….om harusnya menjalani nya tanpa beban berlebih krn semua sdh digariskan Nya karena om kayanya udah tau keadaannya sgt sulit…..kata org sih biarkan air nya mau ngalir kemana…nikmati aja apa yg bisa dirasa dan dijalani…kdg ketawa ngakak kdg ketawa berurai air mata hehehe
    Ah om bisa aja aku bilang gitu sama om..pdhal aku jg ????????

  2. Ini tulisan temen semalam yg ingin aku tulis ( di mana saja katanya ), dgn sedikit penyampaian yg berbeda aku cetak di sini diskusi itu.
    Hehe…aku terlibat terlalu dalam bahkan begitu menjiwai.
    Ada sedikit kesamaan, bahkan bagi semua org.
    Tapi bagus juga; semua adalah proses.
    Meski sedikit sulit diterima; aku isi diskusinya setelah aku sedikit paham ttg dia.
    Ahh…. Ini juga nambah beban…
    Biarin dehh…

  3. Oh iya…
    Terimakasih ya, Tante.. Sudah mampir; serasa diketuk pintu ini.
    Dan ada di sini*
    Jaga kesehatan, Tante.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: