2 Komentar

Wait For me

Harusnya sdh lewat, bahkan sdh belasan tahun. Menohok kerasa, padahal saat itu hadirnya hanya sesaat, namun Tuhan ternyata mencatat begitu tebal, bahkan di copy dan dilemparkan kembali padaku.
Aku mencoba menolak, berlari keras dengan suara tidak !namun seakan catatan-Nya di tempel jg dgn keras di jidatku.
Ah… Aku diberi tambahan kehidupan baru, padahal pasti aku akan dimatikan-Nya.
Benarkah ini Rasa; yg KAU layangkan di gelap malam, KAU bagikan pada beberapa manusia yg melepuh pipinya oleh air mata, karena kebesaran-Mu.
Sulit aku memahami, Tuhan.
Kau beri rahasia baru, tapi sakitnya lebih dulu. Dan itu kuasa-Mu.
Kemudian pagi, aku beranjak diam2 meninggalkan semua itu, kuulur tatapanku ke arah mentari; seakan marah – apinya menjalari punggungku, mengikat kuat perintah-Mu. Siang aku dudukan persoalan ini di riuhnya pohon rindang bahkan kelam; kuikat dalam logika hati disebagian mangkuk batas cakrawalaku.
Tuhan, saat aku meretas menuju senja, catatan itu terus saja menggandeng bathinku;
Mengajak dan menerbangkanku dalam lapisan langit yg tak kumengerti. Aku masih saja berputar di sana; menggelandang dalam lemahku mengeja.
Tuhan KAU tahu semua ini, hingga akhir.
Akan KAU apakan aku, senja itu telah mengisyaratkan.
Akan KAU apakan aku, catatan itu sudah pasti.
Ampuni hamba, Tuhan.
Kali ini aku akan berusaha diam.
Kali ini aku tak akan menangis.
Kali ini aku akan menyimpan kerumunan masalah itu dalam bathin dan hati.
Meski aku tahu tak akan sanggup sendiri, tanpa-Mu.
Dan ini Rahasia-Mu yg melambai-lambai, seakan rerumputan di tempat tertinggi.
Tuhan, terimakasih KAU ijinkan aku memilih dan KAU jaga.
Bila KAU matikan aku; ampunilah aku dengan sejuknya surga-Mu.
(Ijinkan aku menabur bunga-bunga do’a sebelum kematianku)

Karena aku juga telah siap melepaskan yang lalu.
-milono-

Iklan

2 comments on “Wait For me

  1. Semoga pilihannya ga menjauhkan dari Surga Nya…

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: