Tinggalkan komentar

Di Jogjakarta jumpa seorang kawan lama

Sekitar 2 bulan lalu aku jumpai dia tengah lewat di teras salah satu stasiun radio ( Yogyakarta ), benar2 tanpa sengaja; langkahnya masih tetap sama, tenang dan mantap seakan tak ingin memperlihatkan pada org sekitar ttg sirat bathinnya, kali ini dia menuntun sebuah sepeda tua ( aku tidak tahu merknya ) tp yang jelas begitu coklat warnanya tanpa cat.

Penampilannya biasa saja, namun yg sekarang kulihat rambutnya agak sedikit gondrong, ikal & rapi.

Aku sendiri sdg nangkring minum teh panas nunggu Bis 15.

Sempat beberapa menit aku pandangi, seakan ga yakin. Bukankah seharusnya dia ada di Sidney ?

Ah…salah, bukan dia, pikirku.

Aku khan sering berlebihan mengkhayal, dan aku khan sdg belajar sadar…tentu bukan dia. Bukan !

Aduhh…!! ga tahan, aku yg hobi penasaran beringsut dari angkringan, nekad aku kejar.

 

“Gan….Ogan…!!!” dua kali aku panggil..ini nama panggilan akrab kami, nama sebenarnya inisial “Ph”

Dia berhenti persis di depan Kantor Pos, begitu tenang menengok ke arahku ( aku sendiri deg2an kalau salah org )..

“subhanallah….Gan !!! kamu skr di jogja..??!!”…pertanyaanku gak pas.

” Yono…” tanpa ekspresi, hambar dia menyebut nama panggilanku semasa di SMA ( N T ).

Gan..wajahmu pucat.., aku mulai menggunakan double otak kiriku dan nyambung ke bathin.

Ogan sejenak menatapku dan agak ragu ingin bersuara…..

Edannn !! dia meneteskan air mata. Menangis kawan lamaku ini..

Aku sudah cukup dewasa dan belajar cepat memehami situasi, aku ajak dia berlalu dari sana, sepedanya aku ambil alih kutuntun. Kuharap semuanya baik2 saja.

 

Usai Maghrib, di pinggiran alun2 selatan Jogja kami mulai sedikit santai berdiskusi ( tak kan byk yg khan ku sampaikan ditulisan ini-rahasia, bro ).

Namun tentang perjalananya kali ini di Jogja ( ternyata hampir 6 bulan ) sungguh ada pelajaran yang berharga untuk diikuti. Begitu romantis.

Suara lagu radio FM dari sebuah kios rokok mengiringi percakapan kami, tentang Ogan yang sunyi. Tentang Ogan yang skr mudah menangis. Tentang beban bathinnya yang tak banyak orang tahu. Ogan yang mungkin lepas kontrol meninggalkan waktu yang seharusnya menjadi kebahagiaannya.

Ogan yang skr agak kurus mengikuti kemana saja kaki melangkah. Senyum seorang mantan pendaki gunung itu agak hilang, bahkan lenyap di keramaian.

“kapan kamu pulang ke pantura, gan…, mungkin dgn adanya keluarga kamu akan lebih tenang” sedikit aku memberi nasehat.

“aku ingin memahami semua ini, yon…, kemudian khan kubakar semua ingatan”.

“Gan, biarkan semua yang lalu ada di sana, tak perlu kau hilangkan. Sampai kapan kau siksa dirimu?? tak perlu semua tempat kau singgahi, bahkan jalanan sepi kau lalui, benar bara di hatimu tak kan pernah padam. Biarkan tetap ada. Semua orang punya masalah, tapi bersahajalah. tak akan ada yang sama persis dgn dia!!” aku bicara sambil ga tega menatap wajahnya yg begitu sedih.

 

14 tahun lalu di Gunung Merbabu, terakhir dia kisahkan tentang luka seorang anak manusia, tentang cinta dan kekasih, dan sekarang kami bertemu dalam perubahan waktu.

Begitu hebat hidup ini diciptakan, menjadi romansa yang bersaing dgn luasnya langit. Menembus batas cakrawala, karena yakin akan ketetapan Tuhan.

Bersyukurlah bagi kawan2 yang mampu menembus doa2 hingga damai menjalani hidup, dapat membedakan apa yang harus dipilih, dan akhirnya mampu menghargai apa yang dialami orang lain tanpa harus mencemooh.

Bersyukurlah kita memiliki keluarga, siapapun dia, hargai dia dalam kesibukannya yang masih dalam jalur.

 

Pukul 23.15 WIB kami berpelukan sebelum berpisah, berjanji bahwa suatu saat akan bertemu lagi. Menatap wajahnya yang pucat, ga sadar aku meneteskan air mata.

Ga nyangka, salah seorang kawanku mengalami kesedihan yang begitu hebat (utk ukuran kami).

Seorang Ogan seakan “minyiksa” dirinya, semoga dia baik2 saja.

Waktu berlalu begitu cepat, kalimat terakhir aku sampaikan padanya ” ingat Gan, angka usia kita terus bertambah, sisakanlah kebahagiaan dalam hidup kita”.

Hujan rintik mengingatkan bahwa aku juga harus melangkah dalam hidup ini. Membiarkan kenangan dalam bukunya, dalam pigura yang hangat tanpa harus kukunci.

Sesaat kupandangi Ogan mengayuh sepedanya ke arah Jl. Nagen, mungkin menuju seputaran belakang Taman Sari..

Dia masih terus mencari, meniti jalanan sepi mencari sebagian jiwanya ( yang sebenarnya ada Pada Tuhan ).

Alhamdulillah..Ogan masih memiliki bara dalam hatinya.

Biarkan dia mencari.

dan Mencari.

Baik-baiklah, kawanku.

( Allah SWT Maha Tahu, akan dibagaimanakan hamba-Nya )

**dari catatanku FB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: