Tinggalkan komentar

pagi

Pagi aku kayuh sepeda, ada juga para tetangga, menyusuri halaman dan lepas menyeberangi persawahan. Di sepanjang jalan ini dulu aku pertama marah pada kamu; kemarahan yang sebenarnya tidak kumengerti, karena aku tidak menjiwainya, isinya cuma kecewa juga kesal, hingga tanpa solusi; saat ujung jalan ini habis dan harus menyeberangi tikungan, yang akhirnya juga mengecewakan. Kecewa yang ini ( adalah rasa syukurku ); aku tersadar dan malu kenapa aku harus marah.

Maafkan aku, rasa marahku sudah takdir; mungkin hanya untuk menggerakkan seluruh organ tubuhku agar sedikit tegang hingga jiwa sedikit mengkilap. Syukurlah ada kecewa.

Aku sempat kitari kampung dan gang sekitarmu, aku tangkap beberapa gambar untuk melepas rindu di waktu depan. Namun aku sedikitpun tak berani melewati teras itu. Aku hanya mampu menatap di Google earthh.

Aku tidak bisa menitipkan pada siapapun, bahkan catatan di kertas ini remuk, padahal tintanya tidak luntur; burung manyar berteriak2 di pinggiran sawah dan titian lamtoro. Suara lain tak mampu terdengar, karena terekam oleh suara kemeresak daun2 tebu yang mengering.  Kutidurkan disisinya.

                                              Catatn; Wrd 1990

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: