Tinggalkan komentar

Aku sudah tidak nakal

Screenshot_2015-12-19-19-09-16Tiap kali pulang, dan dengar teriakan Jinan; serta merta tersenyum dan menarik nafas kuat… happ !! lompatannya tepat hinggap tubuhnya berputar sambil tertawa terbahak-bahak.

Dan akhirnya… pipis dalam gendongan…aduhaiiii…. hangat !!

 

1 Komentar

Melewati siang 11 Mei 2015

Mendung makin pekat di sekitar seatruck yang kami naiki semenjak 1 jam yang lalu.  Aku hanya memandangi cipratan air laut yang terus saja mencoba menyentuh mukaku dari balik jendela. Sedikit aku buka jendela geser, tangan kuhulurkan agar kami dapat saling memegang erat kisah hari ini. Seakan tak ingin lepas, namun aku tak mampu menahan terlalu lama. Aku persilahkan kami berpisah di tiap deru mesin boat ini. Basah tanganku karena mata itu, Kuusapkan ke bibirku, pipi, dan mata.

Terus saja memanggil. Sejujurnya tak ingin berpisah.

“hanya bersamamu, segala mendung di langit biru dapat kita lewati”

Tentu aku masih ingin menyapamu, sedikit saja untuk membagi cerita perjalanan siang. Sedikit saja agar kamu tetap banyak memiliki kisah-kisahmu sendiri.

Meski aku tahu, kau mendiamkan dan hanya menyimpan, agar kamu kuat mengisahkan hidupmu.

Hanya letih kau tinggalkan, menanti matahari pagi.

Tinggalkan komentar

Selamat Hari Raya Idul Fitri; Hari ini

Miss You so Much,
Selamat Hari raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir dan bathin

Aku masih dipinggir sungai, pandangi aliran Mahakam,
begitu tinggi pasangnya.
Begitu tinggi juga rindu ini.

Tahukah C,
Malam takbiran semalam, takut masuk kamar lebih cepat;
hingga puncak kantuk,
agar tak merasa sendiri dan menangis menatap langit-langit kamar,
bertuliskan latar yg tertinggal, hingga begitu jauhnya si ujung celana basah terbang berjauhan dengan capung.

Alur sungai begitu tenang, kapal-kapal saling merapat di seberang pulau, mengaitkan tali saling menatap rindu masing-masing.
Aku sempatkan melambai, seakan engkau yang di seberang jalan sana.
Melepas layar, memeluk hempasan angin ke arahku.
Big Hug

Miss You so much
Borneo, 28 Juli 2014

Tinggalkan komentar

Tanggal sekarang

Woww….
cepat banget waktu bergerak.
secara fisik aku berhasil menahan diri tentang rasa.
namun tendangannya terus saja berdegup…begk…begg..beghh
dan ujung pundaknya makin basah.
nggak gol–gol juga, bahkan sering offside haha..

aku pandangi kakinya,
bahkan aku senyumi ujung jemarinya dengan sisa tinta penyoblosan capres,
meleleh namun ga luntur-luntur, meski sudah dikibas-kibaskan,
akhirnya jadi tatto di dada,
nyebelin sih; namun apadaya, pohon mahoni depan kantornya cekikikan ngejek mulu,
akhirnya aku lompat dan telentang di rerumputan, sedikit lupa karena gatal oleh getah para perdu.
romantis sedikit gila-gilaan,
meledak-ledak.

kamu tahu khan, kita ga perlu pahami tulisan ini,
karena wasitnya sangat berkuasa untuk membolehkan atau tidak bola itu aku tangkap,
hanya boleh disimpan gambarannya,
gawangnya tak berjaring C, itu tiap kali kamu meliriknya penuh sebel.

ok, kapan waktu akan aku jumpai,
aku pengen nanyain ttg payung itu,
kangen banget aku sama tuh payung !!

Tinggalkan komentar

Burung Cici

.Adalah Burung Cici.

Lama aku menantimu.

Pernah aku mencari, namun justru aku yg hilang.

Hilang di sederetan kata2 statusmu.

Pernah pula aku berusaha keras menahan utk tidak mencari,

Ah…kamu akan tetap ada.

Namun entah di mana.

Kamu adalah si Burung Cici, yg pernah kukejar, hingga jumpalitan aku lompati dahan2 pohon kluwih.

Yang mendiamkan rintik hujan basah di ujung jari jemari.

Aku rindu.

Tiap pagi mentari kuhadang utk sekedar kutitipkan surat cinta ini. Meski-

Hanya ada bianglala, di antara sinarnya di sela daun2 pisang.

Adalah Burung Cici…

Tinggalkan komentar

Menanti

Menanti

Adalah mengisi waktu berharap memperbaiki yang lalu; atau mengira2 apa yang akan bersama kita selanjutnya.
Yogyakarta – Cepu mampu mempertemukanku dengan sekian dan sekian jarak, bahkan tikungan bermacam-macam karakter.
Maha Besar Allah سبحانه وتعالى menciptakan.

Tinggalkan komentar

Lip, masihkah kau mencarinya ?

Sahabat Waktu. Kemanakah lagi kau akan mencari, sahabatku ?
Duduklah sejenak di teras rumahku, percayalah aku mampu mendengar untuk memahami langkahmu.
Jangan kau siksa dirimu, sahabatku.

***
Di tikungan kantor pos sisi alun-alun, sepeda yang kau kayuh begitu cepat terparkir sore itu. Aku hentikan langkah bersama lembayung bergaris jingga, seakan tengah merayu sesuatu yang tak seperti biasanya.
Aku melihatmu, kawanku; seakan dilukis waktu yang diam kemarin.
Menidurkan keinginan yang lain.
Sayup suara radio RRI melemah di jajaran para pedagang yang makin
menua di sisa waktu sedari subuh; beringin besar bergerai daunnya berantakan menari di kemarau Agustus, gemerisik terus saja menepuk-nepuk kakimu yang belum juga melangkah.
Semua menatapmu, sahabatku.
Kemarilah ke teras rumahku, kan kuijinkan kau buka buku harian di sudut kamarku, tentang kenangan yang telah terpigura rapi menjadi senyum. Tentang sepatu butut yang masih menggantung di lemari kamar; pernah menemani lariku dalam memahami sisi kehidupan.

Aku paham itu tak kan seimbang dengan pencarianmu.
Namun, kemarilah sejenak di teras rumahku, sahabatku.
Biarkanlah dia pergi.
Percayalah tak ada yg menyepelekan situasimu; semua ketentuan Tuhan.

Aku tahu kau terus saja mencari dia yang telah pergi, seribu surat berpencar pada angan; tertumpuk di tas kulit tua Pak Pos. Pagi tadi tanpa prasangka aku kumpulkan, sahabatku. Kujadikan cerpen tatapan, yang kutata rapi sesuai inginmu.

Aku tak memaksamu untuk membuang kenanganmu; namun jangan biarkan rasa kehilanganmu memupus bathin.
Kawan, masih juga kau berkelana, tak jera mencari. Duduklah sejenak di teras rumahku, kawanku yang baik.
“Aku ingin mencari yg sama, asal saja seperti dia…” menunduk kau berucap pelan.

Seribu daun beringin terbang berputar mengitari jurai akar-akar yang manis melambai, merayu para manusia pada pemandangan hidup.

Tetaplah semangat, sobatku.
Kali ini aku turut mencatat langkahmu. Kan kujadikan selendang silahturahim hari-hari.
Menjadi penampang satu sisi lingkar hidup.
Kuharap engkau tidak sepi. Teras rumahku melamun menunggu singgahmu.

Pekalongan – th. kesekian

Tinggalkan komentar

Aku pernah duduk di sana; di stasiun kecil bersama Bunga Lily.

Kali ini aku lewati Stasiun kecil itu; anginnya bergemuruh usai memasuki bulan November, seakan mengejekku. Kali ini aku lebih siap untuk duduk lebih tenang.

Aku pernah duduk di sana; menghitung kereta seberapa cepat melewati obrolan kami. Seberapa cepat aku memindah diskusi. Seberapa cepat aku menyadari bahwa aku seharusnya tak perlu memperpanjang catatan.

Aku pernah duduk di sana; bertanya tentang kemana lagi untuk mencari rasa diam itu.

Aku pernah duduk di sana; di stasiun bersama Bunga Lily dalam botol, sepanjang jauhnya rel kereta di batas cakrawala, dan waktu berlalu tiada terasa, mengembara pada seputaran Stasiun kecil.

Aku pernah duduk di sana; usai mengejarmu yang duduk di gerbong terakhir Kereta Pagi, tanpa menolehku. Padahal aku berteriak mengalahkan kerasnya batu sekitar rel yang kubanting ke segala arah !! Tahukah kamu… aku marah tapi diam tertular olehmu. Sombongnya kamu.

Hujan mengguyurku. Malaikat turut diam saja; seakan getir menyaksikanku yang terus saja menyalahkan panjangnya rel ini. Aku kalah. Menyusuri rel aku pandangi halaman rumahmu, jendela dan pintu itu sunyi. Marahku belum usai, aku terabas kebun tebu dan kubiarkan sayatan daun-daunnya menyayat kulitku yang basah; agar aku segera sadar, agar aku secepatnya bersandar, agar tak terdengar lagi getar gerbong terakhir kereta yang membawamu.

Aku pernah duduk di sana; kali ini November yang kesekian, lebih tenang sesunyi rumahmu yang dibasahi musim gemericik hujan. Aku nikmati perjalanan ini melingkari jalanan desa para tetangga. Malaikat lebih gagah di sekitarku, siap mencatat, seberapa cepat aku untuk mampu melalui diskusi ini, seberapa cepat aku mendahului para kereta di stasiun ini. Dan, seberapa cepat aku untuk mendo’akanmu.

Waktupun berlalu tiada terasa, aku tak akan mencarimu lagi; aku persilahkan kereta itu melewatiku. Dan ( haha….) tak akan lagi kupaksa Pak POS untuk turut mencari di mana kamu. Aku lebih kuat berdiri di panjangnya rel, hingga gerbong terakhir terlewat, aku mampu berteriak….”haiii !!! berbahagialah !!”.

Aku pernah duduk di sana; berbicara sendiri untuk tak boleh menangis. Karena hujan sudah cukup kuat untuk melenyapkan surat-surat yang lama dalam kardus; langkah-langkah lama.

Aku pernah duduk di sana; dan kau diamkan.

 

Selamat Jalan Kekasih Hati

924836763 – draft Nov 2010.

Tinggalkan komentar

Sabtu Pagi di Kotamu

Sabtu pagi kereta pelan berhenti di St. Hall mengajakku menarik nafas dalam2 setelah sekian tahun.

Pagi yang gelap diam aku menanti kata-kata sebelum yakin akan turun hujan. Dingin menembus kelu lidahku, makin terasa sulit mengungkap do’a yang kemarin.

Matahari merayap sayup 06.00 wib melewati papan reklame jalanan kota, mendongak ke langit berharap ada tulisan dari kawan2 awan. Bersyukur sarapan pagiku penuh senyum sekitar dan sapaan, begitu hangat teh ini di kotamu, begitu dekat, begitu yakin tanpa perlu mendekat. 

Lima tikungan aku tegap menatap pagimu, seakan capung yang tak mungkin lepaskan sayap, senyum itu dari jauh, dua kali aku alami yang sama; hanya saja kali ini ingin aku lempar dengan potongan ranting pohon mahoni. haha… Kali ini benar2 lepas sayapnya…

November sdh hadir, laron berterbangan cinta awal musim hujan; kereta api telah kembali menjauh.
Daun-daun jatuh bertebaran dingin di bathin para lelaki di kios kopi ujung taman. Obrolan kami adalah diam tentang masa lalu.

Langkah itu adalah titik-titik hujan, kini… basah ujung pundakku sendiri; bersandar dikupasan pohon mahoni.

Hai…!
Tetaplah tegar seperti harapmu.
Salamku untuk hari2mu.

Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Diproteksi: Diam Capung bertengger di ujung ranting pohon Mahoni.

Konten berikut dilindungi dengan kata sandi. Untuk melihatnya silakan masukkan kata sandi Anda di bawah ini: